Selasa, 18 Februari 2014

Cintaku bersemi dari sebuah handfone

Kisah-kisah dari semua kisah yang ada,Kulalui semua rintangan yang datang. Awalnya Aku hanya mempunyai sebuah handfone butut yang tidak sepadan dengan handfone-handfone temanku yang lain. Aku tidak merasa malu dengan keadaanku pada saat itu, bahkan saat teman lelakiku mengejek handfone bututku itu. Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman manis kepadanya. Dan sambil kukatakan “ Aku tetap bersyukur  walau handfoneku butut,yang penting handfone ini masih dapat digunakan ”. Dia langsung terdiam, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya itu.
Rasa suka berawal dari sebuah perkenalan………
Hari-hari terus kulalui dengan ejekan dan cemoohan dari teman-temanku. Namun Aku tetap menghadapi semua itu dengan rasa kesabaran dan keikhlasan. Dan saat yang tak terduga, pada saat Aku sendiri tanpa ada seorang pun yang menemaniku, handfoneku berbunyi kring…kring…,lalu kuambil handfoneku dari kantong bajuku. Dan kulihat,ada sebuah nomor yang tidak kukenal mengirimkan sebuah sms dengan tulisan yang tidak Aku mengerti. “ Y4nk l4g1 4p4?? ”. “ Yank “ sebuah kata yang tidak asing lagi kudengar saat itu. Hmmmp….. Aku bingung dan penasaran. Kutanya kembali “ maaf siapa ya?? “ dan dijawabnya “ kamu lupa ya, Aku ini tunangan kamu yank “.  “ Tunangan ?? “, rasa penasaran itu selalu timbul dalam fikiranku. Nomor itu terus saja menghubungiku. Pagi, siang, sore, bahkan malam. Aku merasa terganggu akan kehadiran orang misterius itu.
Hampir satu minggu nomor tak dikenal itu tidak pernah absen menghubungiku. Aku pun sudah mulai merasa kesal akan tingkahnya, lalu Ku kirimkan sebuah sms “ tolong jangan ganggu saya “. Namun tetap saja nomor itu masih menggangguku. Berulang-ulang kali kukirimkan sms kepadanya, namun Dia menghiraukan pesan dariku. Pada sebuah minggu,tepatnya siang yang begitu panas yang sangat menyengat tubuhku, nomor itu menghubungiku. Awalnya kuhiraukan dan pura-pura tak tahu, namun tetap saja nomor itu terus menghubungiku. Akhirnya, mau tidak mau Aku mengangkatnya dan menjawabnya dengan nada ketus. “ Maaf ini siapa?? Ada kepentingan apa menghubungi saya?? ”. Lalu, dia menjawab “ boleh kenalan gak?? “. “ What?? Siapa sih kamu,sok kenal sok dekat banget sama Aku “. “  hmmp, ini Tika kan ?? “,jawabnya. “ Tika siapa??? Aku gak kenal !! “. “ Eeemmmppp…..  berarti salah sambung dong??? “ katanya lagi kepadaku. “ Ember “,kataku jutek. Lama dan semakin lama, akhirnya Aku dan Dia berkenalan. “ Emmmp, sebelumnya maaf ya?? Kalau boleh tau nama kamu siapa?? “,cowok itu menanyakan namaku dengan nada manja. “ Aku Santi, kamu siapa sih??? “ kataku lagi balik bertanya dengan rasa penasaran. “ Kenalin, Aku Zaly “, jawabnya. “Oh”, jawabku singkat.
Sekarang Aku dan Dia sudah tidak merasa asing setelah perkenalan saat itu. Perkenalan saat itu mengingatkanku dengan suaranya yang lembut dan penuh kasih sayang itu. Lalu seperti biasanya, saat waktu senggang kami berdua selalu berteleponan sampai tak ingat akan waktu. Dan lalu kutanyakan padanya tentang sebuah nama yang pernah disebutnya awal Aku dan Dia kenal.  “Emmmp, kalau boleh tau Tika siapa sih?? “….. “ Tika itu  tunangan Aku “, jawabnya. “ Oh,,,,”jawabku ketus. Kesal Aku dibuatnya dan rasa cemburu itu pun mulai timbul dalam hatiku. Apakah mungkin aku suka pada Zaly???? Terus kurenungkan dan kufikirkan semua perasaanku yang campur aduk jadi satu.
Perasaan itu benar-benar tumbuh seperti batang yang mengeluarkan akarnya. Hmmmp,,,, gugup saat berbicara dengannya ditelfon. Seakan Aku takut tentang perasaanku yang untuk pertama kalinya merasakan rasa cinta pada seseorang. Pernah kufikirkan, bagaimana jika Dia kembali bersama tunangannya itu. Terus……terus…….. dan selalu terus kufikirkan tentang dirinya dan tentang perasaan ini. Mungkinkah akan kukorbankan perasaanku pada orang lain, atau mungkinkah Aku harus merebut kebahagianku dan menyakiti hati orang lain. Semakin bingung Aku dibuatnya tentang cinta segi tiga ini.
Waktu terus berjalan begitu lamanya, dan hilanglah hubungan yang dulunya Aku selalu canda tawa dengannya. Kini Aku sendiri, mungkin Aku hanya bisa mendengarkan suaranya dari jauh. Jauh bukan berarti karena jarak, tetapi jauh melalui khayalan dan mimpi yang terpendam. Rasa suka dan rasa keinginan untuk bersamanya juga sudah hilang, ikut bersama mimpi. Terus Kuhubungi nomor yang dulu sering menggangguku, tapi kini nomor itu sudah tak dapat Kuhubungi.
Cintaku terbawa oleh mimpi yang tak dapat kuraih……
Lama…..lama….dan semakin lama waktu berjalan, hingga Aku dapat menghapuskan rasa sukaku padanya. Dan Kucoba Kuhubungi nomor itu untuk terakhir kalinya. Aktif….benar-benar aktif…. Nomor yang selama ini Kuhubungi itu sekarang benar-benar aktif, bahagia yang kurasakan pada saat itu. Namun, kebahagian itu hanyalah sesaat. Nomor itu memang aktif, namun bukan orang yang kucarilah yang muncul melainkan orang lain. Kekecewaan, rasa sedih pun kurasakan saat itu juga. Dalam benakku, “ Aku akan melupakanmu untuk selamanya dan tak akan pernah mengingat tentangmu lagi “.
Satu tahun kemudian selepas Aku terfikirkan oleh cowok yang hanya menyakitkan hati itu, Aku mulai bangkit dan belajar dari yang sudah terjadi. Saat itu Aku berada disekolah baruku, Aku melihat seorang cowok yang menurutku lebih keren, ganteng daripada Dia. Tapi semua itu hanya terlihat dari luarnya saja, sedangkan dalamnya sama seperti cowok-cowok lain.
Lalu,semua waktu yang telah berlalu yang Kulalui dengan hari-hari kesendirian tanpa ada pengisi hati ini. Daun-daun berguguran seperti itulah Aku, hatiku gugur entah sampai kapan akan begini. Perasaan ini kurasakan begitu lah sambil Kupandangi handfone bututku yang ada digenggaman tanganku.  Kulihat handfone itu dengan tatapan pasti, hanya ada sebuah nomor yang tak berguna didalamnya. Dulu handfone ini sering berdering karena sebuah pesan datang untukku. Tapi kali ini, handfone bututku ini benar-benar menjadi handfone butut yang tak berguna. Sesal, menyesal Aku telah mengenal seseorang yang hanya membuatku kecewa akan kata-katanya itu. Semua kata-katanya hanya sebuah tipu belaka.
Februari……..
Bulan yang merupakan bulan paling special dan bulan paling romantic bagi orang-orang dan termasuk Aku. Awal perkenalan yang tak sengaja, waktu itu Aku dan Dia belum tau apa-apa tentang keegoisan….yach bisa dibilang masih Anak bau kencurlah..hehehe… atau bahasa kerennya sering disebut cupu,kepo… haha……. Ya emang bener sich, Aku waktu itu masih culun dan cupu banget. Ya maklum aja, jangankan bahasa keren sedangkan tanggal valentine aja Aku gak tahu. Hmmmp, malu banget pas ditanya…. Tapi, itu semua kulalui  dengan rasa happy-happy.
Cintaku bersemi dari sebuah pertikaian…….
Perkenalan itu berlangsung tidak lama, awalnya Aku memang tidak dekat dengan Dia dan menganggap Dia sebagai teman. Dan perasaan dengan Dia pun belum muncul saat itu. Hmmm, tapi lama-kelamaan rasa suka Ku pada Dia mulai muncul…muncul…dan semakin muncul hingga saat ini. Padahal Dia cowok yang biasa-biasa aja, tapi gak tau kenapa Aku bisa nyaman banget dekat sama Dia. “ Dimas “ itu lah nama cowok yang Aku suka, cowok yang ideal banget menurut Aku. Sampai-sampai teman kusendiri Mia memimpikan Aku dengan Dimas berjodoh. Apa mungkin, tiap ketemu aja gak akur masa tiba-tiba dibilang jodoh. Hmmm, tapi dalam hatiku senang dan ngerasa bahagia banget semoga aja jadi kenyataan…. Amin….
Saat ada sebuah kerja kelompok, ternyata aku satu kelompok dengan Dia. Aduh, gugup iya.. natap wajah Dia aja Aku gak berani. Hmmmp, malu dan bener-bener malu sampai gak bisa ngomong apa-apa. Apalagi Mia sahabatku itu selalu mencoba untuk nyomblangin Aku sama Dimas. Hmmmp, gokil banget si Mia, hahaha…. Tapi usaha Mia selalu gagal, berbagai cara Dia lakuin satu pun gak ada yang berhasil. Aku cuma bisa ketawa bahagia… hahaha…
Terus….terus….dan terus….banyak cara yang dilakuin Mia buat bikin Aku dan Dimas bisa semakin dekat. Tapi ada aja hal lain yang kami berdua kerjain, mau itu lah ini lah. Sampai Mia kesal sendiri. Tiba di saat ada praktek memasak, Aku dan Dimas satu kelompok lagi. Gak tau kenapa setiap ada tugas kelompok Aku dan Dimas selalu dalam satu kelompok. Hmmmp, mungkin “JODOH “… hahaha… ngarep banget Aku. Tapi gak pa-pa lah, hehehe…. Waktu itu kelompok Aku ada kekurangan bahan-bahan untuk memasak. Aku, Mia, dan teman-teman yang lain bingung mau gimana lagi. Lalu, Mia mencari rencana untuk mendekatkanku sama Dimas. Akhirnya Mia menyuruh Dimas untuk mengantar Aku pulang mengambil bahan-bahan yang kurang. “Dim, antarin Santi pulang dong??? “, suruh Mia. “ Ngapain Mi??? “, tanyanya kepada Mia. “ Ngambil bahan-bahan yang kurang lah, masa nya nyuruh Kamu sama Santi jalan berdua “, jelas Mia. “ Ya udah, ok lah “, jawab Dimas. Sepertinya rencana Mia kali ini berhasil.
Tidak lama kemudian Mia memanggil Aku. “ San, Santi…. “
“ Iya Mi, ada apa??? “,jawabku yang tidak tahu sama sekali maksud panggilan Mia itu. Awalnya, Aku mengira Mia meminta tolong ke Aku untuk memotong sayuran. “ Mending kamu pulang San “, suruhnya. “ Pulang, ngapain aku pulang??? Disini aja belum selesai, memangnya kamu bisa kerjain ini sendiri??? “, Aku berpikir sejenak tentang perkataan Mia yang menyuruhku pulang. “ Hmmmp, maksud Aku pulang bukan untuk selamanya Santi sayang. Tapi ngambil bahan-bahan yang gak ada atau yang kurang disini. Lagian masih banyak teman lain yang bisa bantu Aku disini “, jelasnya. “ Oh, tapi mana bisa Aku bawa barang-barang sebanyak itu??? “,tanyaku kembali kepada Mia. “ Tenang aja, ada yang bakalan ngantar Kamu kok San “, jawab Mia. “ Siapa???? “, Tanyaku yang semakin penasaran dan semakin curiga kepada Mia. “ Dimas “, jawab Mia dengan santai.  “ What??? Dimas, kenapa harus Dia sich Mi??? “, jawabku dengan terkejut dan perasaan dag…..dig…..dug…..jantungku berdegup kencang. Ternyata Dimas, cowok yang selama ini Kusuka. Pikirku, kayaknya Mia memang sengaja menyuruh Dimas yang mengantar Aku. Padahal kan masih banyak cowok lain diisini. BĂȘte dech….uch…. Aku sedikit berbisik kepada Mia. “ Mi, semua ini memang udah kamu rencanain kan??? “…… “ Gak kok San, kebetulan aja tadi Aku lihat Kamu dan Dimas yang gak begitu sibuk “,jelasnya. “ Tapi???? “, kataku.
“ Sudah gak ada tapi-tapian, pergi ajalah. Demi kelompok kita “,jawab Mia yang sambil merayu-rayu Aku. “ Ok, Ok….. Awas aja Kamu ntar Mi habis “, jawabku dengan nada malas dan mengancam Mia. Akhirnya mau tidak mau Aku pergi bersama Dimas, sedangkan temanku yang lain hanya melihat kepergianku dengan Dimas. Sewaktu Aku dan Joko berada diparkiran, Aku bertanya kepada Dimas. “ Aku yang bawa motor atau Kamu yang bawa motor??? “, tanyaku pada Dimas dengan nada jutek. “ Kamu ajalah, ehhh….. Aku ajalah “,jawab Dimas dengan jawaban yang plin plan itu. “ Yang mana yang benar sich, Aku atau Kamu??? “, jawabku jutek dengan nada rada kesal. “ Aku aja, mana kuncinya??? “, katanya sambil menjulurkan tangan kanannya meminta kunci kepadaku. Kami pun pergi, dan jauh………. semakin jauh Aku dan Dimas meninggalkan gedung sekolah itu. Diperjalanan Aku merasa sangat gugup, jantungku serasa akan lepas dari tempatnya. Hahaha….. lebay banget dech…. Tapi memang bener kok semua itu asli. Lima belas menit kemudian, kami berdua sampai. Hmmmp, kebetulan saat itu dirumahku rame banget, semua kumpul. Jadi malu, hahaha…. Aku buru-buru masuk kedalam untuk mengambil bahan-bahannya agar tidak ditanya-tanya dan Aku kembali keluar. Sebelum Aku dan Dimas pergi kembali kesekolah, ada yang bertanya kepadaku “ Pacarnya ya??? ”. Aku tak menjawab dan segera pergi membawa bahan-bahan yang Kuambil dari dalam rumah.
Aku dan Dimas pun tiba lagi disekolah, Aku berjalan cepat meninggalkan Dimas sendirian yang sedang memarkir motor. Setibanya dikelas, salah seorang temanku berkata “ cieee…..cieee…..yang abis jalan. Emmmp kemana aja tadi??? Hahahaha…… “. Aku menghiraukan perkataannya itu, dan menganggap omongan itu sebagai angin yang menganggu-gangguku disaat Aku bersama Dimas tadi. Waktu berjalan semakin cepat, hidangan  satu per satu pun masak, segera Aku memisahkan untuk penjurian dan untuk teman-temanku. Waktu menunjukkan pukul 11.30 wib siang. Segera Aku menyuruh teman-teman untuk menyusun tempat untuk menghidangkan makanan itu. Dan tidak sengaja Aku menyuruh Dimas untuk membersihkan tempat hidangan. Untuk pertama kalinya Aku menyuruh Dia dengan rasa tergesa-gesa karena mengejar waktu yang hanya tinggal beberapa menit lagi. “ Dim, itu diberesin buruan “,kataku.
Tepat pukul 12.00 wib siang, penilaian dilakukan. Sempurna semua makanan yang kami hidangkan habis tak tersisa. Kami senang semua menyukai masakan kelompok kami. Dengan berjalannya waktu yang panjang, hingga tiba didetik-detik Aku hendak melaksanakan Ujian Nasional. Waktu itu Aku mendapat tugas pertanian menanam jagung. Bibit-bibit yang kutanam tumbuh subur dan tiba waktu panen, ada yang memberitahuku bahwa hasil pertanianku mungkin tidak dapat dipanen. Ternyata benar tanaman yang selama berbulan-bulan kurawat benar-benar habis tak tersisa sama sekali. Rusak….benar, benar rusak. Hanya batang dan daunnya yang tersisa. Itu pun sudah tidak utuh lagi, hancur seperti memang ada yang sengaja menghancurkannya.
Aku menyelidiki siapa yang merusak tanaman jagungku itu, ternyata tak kusangka Dimas lah yang merusaknya. Marah, kesal, kecewa kurasakan saat itu. Rasa kecewa benar-benar ada dan saat bertemu Dimas, Aku cuek dan buang muka kepadanya. Dan saat siang hari yang begitu panas, Aku sedang duduk disebuah kursi dibawah pohon bersama Mia.  Dan lewatlah Dimas tepat didepan mataku, dan aku segera membuang muka dan pura-pura tidak tahu kalau Dialah yang lewat dihadapan mataku. Sedangkan Mia sahabatku itu hanya memperhatihan tingkah kami berdua.
Mia sahabatku itu, cerita padaku setelah Dimas telah jauh berjalan dari kursi yang kami berdua sedang duduki. “ Eh, San….!!! Kamu tahu gak sich, waktu kamu buang muka ke Dimas tadi, Dia liatin Kamu terus loh “. “ Emmmmp……,biarin aja. Gak ngurus banget, siapa-siapa bukan “, jawabku cetus dan langsung berlari masuk kedalam kelas. Bosan…..bosan….semakin bosan aku melihat wajahnya itu, apalagi setiap hari Aku harus ketemu Dia terus dalam waktu, dan tempat yang sama. Hmmmp… dalam hatiku terus ngomel-ngomel gak jelas. Entah ngomel-ngomel sama Dimas atau temanku yang lain. Apalagi waktu teman sekelasku mengejekku lagi, rasanya geram, dan emosi itu timbul. Bener-bener kesal dibuatnya, satu kenangan yang indah yang tak pernah terlupakan dalam pikiranku yaitu saat jalan berdua bersamanya. Untuk pertama kalinya jalan sama Dia. Indah, indah banget…. Andai waktu itu dapat berputar satu kali lagi, mungkin Aku gak bakalan dech kayak gitu lagi ke-Dia. Tapi semua sudah terlanjur terjadi, dan gak akan bisa kembali seperti semula lagi. Yang hanya bisa Kuingat sebuah hanya kenangan, kenangan dan kenangan. Dan terakhir Dia hanya memberikan sebuah senyuman yang sangat manis kepadaku.

Cinta dua hati beda dunia

Konon didekat Universitas didaerah Jakarta ada sebuah danau yang terkenal dengan danau yang angker. Di sana sering terlihat jelmaan seorang wanita cantik yang sedang duduk sendiri disebuah pohon di dekat danau itu. Indah, pemandangan didanau itu pun begitu indah dan udaranya pun begitu sejuk.
Dahulu kala, pernah dikisahkan ada sepasang kekasih yang sedang asyik menikmati pemandangan disekitar danau itu. Ketika hendak merendamkan tangan di dalam air danau itu, serasa ada seperti yang menarik tangannya. Ia pun ikut terbawa masuk kedalam luasnya danau angker itu. Dan kejadian itu kini terjadi pada diriku yang bertemu seorang wanita cantik entah penunggu danau itu entah memang asli wanita yang benar-benar ada didunia ini.
Waktu itu, Aku tidak ikut pergi bersama teman-teman rombonganku untuk mencari bahan tugas mata kuliah. Hari memang begitu panas saat itu, Aku menyendiri dan duduk tepat dibawah pohon ditepi sebuah danau. Aku dikenal oleh teman-temanku sebagai cowok yang pendiam. Diam, duduk sambil menikmati suasana di danau tersebut. Aku juga dikenal dengan anak sastra yang jenius dan pintar. Aku duduk sambil memejamkan mataku dan memikirkan sesuatu untuk membuat sebuah karya sastra yang menurutku keren. Memang keren, setiap karyanku selalu dimuat di majalah-majalah.
Terusku berfikir, namun ketika Aku hendak berfikir lebih dalam, ada tampak selintas bayangan tepat berada dibelakangku. Jelmaan wanita cantik itu datang menghantuiku, senyuman manisnya yang membuatku selalu ingat oleh sosok wanita misterius itu. Kubuka kedua mataku yang tadinya kupejamkan, kulihat dibelakangku. Ada, memang benar-benar ada wanita yang tadinya hanya ada dalam fikiranku memang ada tepat pada sebuah pohon besar yang sedang kusandari itu. Senyumnya terus menjulur merekah kepadaku.
Kutanyakan pada wanita misterius itu, “ hai lagi ngapain disini???? “. Wanita itu hanya tersenyum dan langsung berdiri dari tempat duduknya, Aku pun juga langsung berdiri untuk mengimbanginya. Hanya senyuman, dan senyuman yang diberikan kepadaku. Tak satu katapun keluar dari bibirnya yang merah merona itu. Aku pun menbalas senyumannya dengan senyumanku yang paling manis.
Aku bingung, kenapa hanya sebuah senyuman dan hanya senyuman yang ia berikan kepadaku. Sampai tiba disore hari, Aku pun masih bengong dibuatnya. Aku masih berada didanau itu dan keadaan disekitar danau memang begitu hening dan sepi. Tanpa ada satu pun orang yang dapat menemaniku disini, Aku berdiri dan masih berdiri tepat dimana aku duduk. Tanpa kusadari wanita itu telah hilang dari hadapanku, padahal nama pun Aku belum tau.
Keesokan hari, sama seperti hari-hari yang lain, setiap ada waktu senggang selalu Aku menyempatkan diri kedanau itu. Duduk, diam, dan sambil memejamkan mata disebuah pohon besar tempat selama ini Aku menghabiskan waktu senggangku. Wanita itu hadir, saat ku tertidur pulas dibawah pohon. Didalam mimpiku, Aku dan Dia bersanding menjalin kasih didanau ini juga. “ SARI “…. Itu lah namanya, wanita yang selama ini membuatku penasaran. Dia selalu memberikan senyuman kepadaku, Aku sendiri tak tahan melihat senyumannya yang begitu indah itu. Aku tersadar dan terbangun dari tidurku, Kulihat tepat dibelakangku tempat Sari menampakkan wajahnya kepadaku.
Ia tidak hadir nyata, hanya didalam mimpilah Ia hadir. Rasa kekecewaanku muncul  saat itu, tampak dari kejauhan kulihat Sari melambaikan tangannya kepadaku dan memberikan senyumannya yang manis itu. Ku berlari datang menghampirinya, tiba-tiba menghilang …. Hanya sebuah bayangan yang terlihat olehku yang datang. Aku kembali pergi meninggalkan danau itu dengan penuh rasa kekecewaan.
Setiap malam, Aku selalu membayangakan wajahnya yang cantik itu. Ia selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpiku, hadir dan hanya memberikan sebuah senyuman. Aku terbangun, kulihat ia duduk disamping ranjangku. Kupegang erat tangannya yang lembut itu dan Kukatakan kepadanya“ jangan pergi “. Tapi lagi-lagi hanya sebuah senyuman yang Kudapatkan. Tiba-tiba Ia menghilang yang Aku sendiri pun tak tau kemana. Kucari-cari dan terus kucari, namun sama sekali Aku tak menemukannya. Kulihat kearah luar jendela, malam yang begitu gelap dengan kerlap-kerlip bintang yang bertaburan diatas langit sana. Hanya senyuman dan selalu senyumannya lah yang dapat Kulihat. Terfikir dibenakku lagi “ Mengapa hanya sebuah senyuman yang Ia berikan kepadaku??? “. Dan terlihat lagi sosoknya sambil  melambaikan tangan kepadaku.
Pagi itu…….
Aku siap untuk berangkat kuliah, kebetulan mata kuliahku hari ini berhubungan dengan sastra. “ Sastra “ mata kuliah yang sangat kugemari. Karena Sastra yang telah membuatku dapat bertemu dengannya. Dan lagi-lagi aku menyempatkan diri datang mendatangi danau itu, duduk sambil Kulihat setiap sudut-sudut danau. Ia tidak ada, saat kuhendak pergi meninggalkan danau tiba-tiba Dia berada dibelakangku. Tampak jelas wajahnya yang cantik dan ia mengenakan gaun berwarna merah. Kuraih dan kegenggam tangannya dengan erat, kutarik dia sampai kedalam pelukkanku. Kudekap dan takkan pernah kulepaskan dari pelukanku sambil kubisikkan dengan lembut ditelinganya “ Aku mencintaimu, jangan pergi “. Dia menjawab, untuk pertama kalinya dia menjawab omonganku dengan sebuah kata yang membuatku bahagia. “ Aku juga teramat mencintaimu, tapi tidak mungkin kita dapat bersatu. Kita mempunyai dunia yang berbeda “, katanya dengan lembut. Kutatap wajahnya, kubelai rambutnya yang terurai panjang begitu lurusnya.
Tanpa  Kusadari seseorang melihatku dan Dia menganggap Aku seperti orang gila. “ Gila tuh orang, ngomong sendiri. Hiiii…… “. Aku menghiraukan perkataannya dan terus Kupandangi wajah yang selama ini telah membuatku penasaran hingga terbayang-bayang dalam mimpi. Kupegang pipinya yang halus dan indah itu, ia tersenyum dan selalu tersenyum. Lesung pipi kanannya berbentuk, dan itulah yang membuatku tak akan pernah bisa melupakannya. Disitulah awal –awal benih cintaku padanya semakin merekah, merekah seperti bunga yang hendak membukakan helaian kelopaknya. Wajahnya itu tak akan pernah membuatku bosan melihatnya.
Kubisikkan lagi ditelinganya itu dengan pelan “ Aku harus pergi, Aku janji akan kembali esok. Kutemui Kamu disini “. Dia pun tersenyum, seakan memberikan satu harapan penuh untukku. Begitu juga Aku yang juga ikut tersenyum membalas senyumannya. Aku tak rela pergi meninggalkannya sendirian didanau ini, namun Aku harus benar-benar tetap pergi, dan menemuinya esok. Selalu kuteringat akan kata-kata lembutnya itu, dan tetap kupandangi Dia dari kejauhan. Jauh……. Jauh…… dan semakin jauh Aku meninggalkannya sendiri.
Malam ini Aku benar-benar tak bisa tidur dibuatnya, wajahnya terus terbayang-bayang difikiranku. Aku hanya merenung dan menatap bulan yang tertutup oleh awan hitam dan bintang-bintang yang seakan-akan tak mengeluarkan sinarnya karena sang bulan tak hadir disampinya menemaninya untuk menerangi bumi yang mereka tempati. Perasaan seperti itulah yang Kuraasakan dengannya, Dia merasa kesepian tanpa kehadiranku begitupun Aku yang merasa kesepian tanpa kehadiran dirinya. Kucoba Kututupkan kedua mataku ini, namun tetap saja tak bisa. Pikiranku hanya tertuju pada satu titik yang mungkin tak dapat diubah lagi begitu juga dengan hatiku.
Hari berjalan semakin cepat, malam berlalu pagi pun menjelang dan suara jam bekkerku terdengar keras tepat didekat ditelingaku. Kulihat dan Kupandangi dengan pasti, segera Aku bangun dan bersiap-siap pergi kedanau untuk menemuinya. End…….