Kisah-kisah
dari semua kisah yang ada,Kulalui semua rintangan yang datang. Awalnya Aku hanya
mempunyai sebuah handfone butut yang tidak sepadan dengan handfone-handfone temanku
yang lain. Aku tidak merasa malu dengan keadaanku pada saat itu, bahkan saat
teman lelakiku mengejek handfone bututku itu. Aku hanya membalasnya dengan
sebuah senyuman manis kepadanya. Dan sambil kukatakan “ Aku tetap bersyukur walau handfoneku butut,yang penting handfone
ini masih dapat digunakan ”. Dia langsung terdiam, tak ada satu kata pun yang
keluar dari mulutnya itu.
Rasa
suka berawal dari sebuah perkenalan………
Hari-hari
terus kulalui dengan ejekan dan cemoohan dari teman-temanku. Namun Aku tetap
menghadapi semua itu dengan rasa kesabaran dan keikhlasan. Dan saat yang tak
terduga, pada saat Aku sendiri tanpa ada seorang pun yang menemaniku, handfoneku
berbunyi kring…kring…,lalu kuambil handfoneku dari kantong bajuku. Dan
kulihat,ada sebuah nomor yang tidak kukenal mengirimkan sebuah sms dengan
tulisan yang tidak Aku mengerti. “ Y4nk l4g1 4p4?? ”. “ Yank “ sebuah kata yang
tidak asing lagi kudengar saat itu. Hmmmp….. Aku bingung dan penasaran. Kutanya
kembali “ maaf siapa ya?? “ dan dijawabnya “ kamu lupa ya, Aku ini tunangan
kamu yank “. “ Tunangan ?? “, rasa
penasaran itu selalu timbul dalam fikiranku. Nomor itu terus saja
menghubungiku. Pagi, siang, sore, bahkan malam. Aku merasa terganggu akan
kehadiran orang misterius itu.
Hampir
satu minggu nomor tak dikenal itu tidak pernah absen menghubungiku. Aku pun
sudah mulai merasa kesal akan tingkahnya, lalu Ku kirimkan sebuah sms “ tolong
jangan ganggu saya “. Namun tetap saja nomor itu masih menggangguku.
Berulang-ulang kali kukirimkan sms kepadanya, namun Dia menghiraukan pesan
dariku. Pada sebuah minggu,tepatnya siang yang begitu panas yang sangat
menyengat tubuhku, nomor itu menghubungiku. Awalnya kuhiraukan dan pura-pura tak
tahu, namun tetap saja nomor itu terus menghubungiku. Akhirnya, mau tidak mau Aku
mengangkatnya dan menjawabnya dengan nada ketus. “ Maaf ini siapa?? Ada
kepentingan apa menghubungi saya?? ”. Lalu, dia menjawab “ boleh kenalan gak??
“. “ What?? Siapa sih kamu,sok kenal sok dekat banget sama Aku “. “ hmmp, ini Tika kan ?? “,jawabnya. “ Tika
siapa??? Aku gak kenal !! “. “ Eeemmmppp…..
berarti salah sambung dong??? “ katanya lagi kepadaku. “ Ember “,kataku
jutek. Lama dan semakin lama, akhirnya Aku dan Dia berkenalan. “ Emmmp, sebelumnya
maaf ya?? Kalau boleh tau nama kamu siapa?? “,cowok itu menanyakan namaku
dengan nada manja. “ Aku Santi, kamu siapa sih??? “ kataku lagi balik bertanya
dengan rasa penasaran. “ Kenalin, Aku Zaly “, jawabnya. “Oh”, jawabku singkat.
Sekarang
Aku dan Dia sudah tidak merasa asing setelah perkenalan saat itu. Perkenalan
saat itu mengingatkanku dengan suaranya yang lembut dan penuh kasih sayang itu.
Lalu seperti biasanya, saat waktu senggang kami berdua selalu berteleponan
sampai tak ingat akan waktu. Dan lalu kutanyakan padanya tentang sebuah nama
yang pernah disebutnya awal Aku dan Dia kenal. “Emmmp, kalau boleh tau Tika siapa sih?? “…..
“ Tika itu tunangan Aku “, jawabnya. “
Oh,,,,”jawabku ketus. Kesal Aku dibuatnya dan rasa cemburu itu pun mulai timbul
dalam hatiku. Apakah mungkin aku suka pada Zaly???? Terus kurenungkan dan
kufikirkan semua perasaanku yang campur aduk jadi satu.
Perasaan
itu benar-benar tumbuh seperti batang yang mengeluarkan akarnya. Hmmmp,,,,
gugup saat berbicara dengannya ditelfon. Seakan Aku takut tentang perasaanku
yang untuk pertama kalinya merasakan rasa cinta pada seseorang. Pernah
kufikirkan, bagaimana jika Dia kembali bersama tunangannya itu. Terus……terus……..
dan selalu terus kufikirkan tentang dirinya dan tentang perasaan ini.
Mungkinkah akan kukorbankan perasaanku pada orang lain, atau mungkinkah Aku harus
merebut kebahagianku dan menyakiti hati orang lain. Semakin bingung Aku dibuatnya
tentang cinta segi tiga ini.
Waktu
terus berjalan begitu lamanya, dan hilanglah hubungan yang dulunya Aku selalu
canda tawa dengannya. Kini Aku sendiri, mungkin Aku hanya bisa mendengarkan
suaranya dari jauh. Jauh bukan berarti karena jarak, tetapi jauh melalui
khayalan dan mimpi yang terpendam. Rasa suka dan rasa keinginan untuk
bersamanya juga sudah hilang, ikut bersama mimpi. Terus Kuhubungi nomor yang
dulu sering menggangguku, tapi kini nomor itu sudah tak dapat Kuhubungi.
Cintaku
terbawa oleh mimpi yang tak dapat kuraih……
Lama…..lama….dan
semakin lama waktu berjalan, hingga Aku dapat menghapuskan rasa sukaku padanya.
Dan Kucoba Kuhubungi nomor itu untuk terakhir kalinya. Aktif….benar-benar
aktif…. Nomor yang selama ini Kuhubungi itu sekarang benar-benar aktif, bahagia
yang kurasakan pada saat itu. Namun, kebahagian itu hanyalah sesaat. Nomor itu
memang aktif, namun bukan orang yang kucarilah yang muncul melainkan orang
lain. Kekecewaan, rasa sedih pun kurasakan saat itu juga. Dalam benakku, “ Aku akan
melupakanmu untuk selamanya dan tak akan pernah mengingat tentangmu lagi “.
Satu
tahun kemudian selepas Aku terfikirkan oleh cowok yang hanya menyakitkan hati
itu, Aku mulai bangkit dan belajar dari yang sudah terjadi. Saat itu Aku berada
disekolah baruku, Aku melihat seorang cowok yang menurutku lebih keren, ganteng
daripada Dia. Tapi semua itu hanya terlihat dari luarnya saja, sedangkan
dalamnya sama seperti cowok-cowok lain.
Lalu,semua
waktu yang telah berlalu yang Kulalui dengan hari-hari kesendirian tanpa ada
pengisi hati ini. Daun-daun berguguran seperti itulah Aku, hatiku gugur entah
sampai kapan akan begini. Perasaan ini kurasakan begitu lah sambil Kupandangi handfone
bututku yang ada digenggaman tanganku.
Kulihat handfone itu dengan tatapan pasti, hanya ada sebuah nomor yang
tak berguna didalamnya. Dulu handfone ini sering berdering karena sebuah pesan
datang untukku. Tapi kali ini, handfone bututku ini benar-benar menjadi
handfone butut yang tak berguna. Sesal, menyesal Aku telah mengenal seseorang
yang hanya membuatku kecewa akan kata-katanya itu. Semua kata-katanya hanya
sebuah tipu belaka.
Februari……..
Bulan
yang merupakan bulan paling special dan bulan paling romantic bagi orang-orang
dan termasuk Aku. Awal perkenalan yang tak sengaja, waktu itu Aku dan Dia belum
tau apa-apa tentang keegoisan….yach bisa dibilang masih Anak bau
kencurlah..hehehe… atau bahasa kerennya sering disebut cupu,kepo… haha……. Ya
emang bener sich, Aku waktu itu masih culun dan cupu banget. Ya maklum aja,
jangankan bahasa keren sedangkan tanggal valentine aja Aku gak tahu. Hmmmp,
malu banget pas ditanya…. Tapi, itu semua kulalui dengan rasa happy-happy.
Cintaku
bersemi dari sebuah pertikaian…….
Perkenalan
itu berlangsung tidak lama, awalnya Aku memang tidak dekat dengan Dia dan
menganggap Dia sebagai teman. Dan perasaan dengan Dia pun belum muncul saat
itu. Hmmm, tapi lama-kelamaan rasa suka Ku pada Dia mulai muncul…muncul…dan
semakin muncul hingga saat ini. Padahal Dia cowok yang biasa-biasa aja, tapi
gak tau kenapa Aku bisa nyaman banget dekat sama Dia. “ Dimas “ itu lah nama
cowok yang Aku suka, cowok yang ideal banget menurut Aku. Sampai-sampai teman
kusendiri Mia memimpikan Aku dengan Dimas berjodoh. Apa mungkin, tiap ketemu
aja gak akur masa tiba-tiba dibilang jodoh. Hmmm, tapi dalam hatiku senang dan
ngerasa bahagia banget semoga aja jadi kenyataan…. Amin….
Saat
ada sebuah kerja kelompok, ternyata aku satu kelompok dengan Dia. Aduh, gugup
iya.. natap wajah Dia aja Aku gak berani. Hmmmp, malu dan bener-bener malu
sampai gak bisa ngomong apa-apa. Apalagi Mia sahabatku itu selalu mencoba untuk
nyomblangin Aku sama Dimas. Hmmmp, gokil banget si Mia, hahaha…. Tapi usaha Mia
selalu gagal, berbagai cara Dia lakuin satu pun gak ada yang berhasil. Aku cuma
bisa ketawa bahagia… hahaha…
Terus….terus….dan
terus….banyak cara yang dilakuin Mia buat bikin Aku dan Dimas bisa semakin dekat.
Tapi ada aja hal lain yang kami berdua kerjain, mau itu lah ini lah. Sampai Mia
kesal sendiri. Tiba di saat ada praktek memasak, Aku dan Dimas satu kelompok
lagi. Gak tau kenapa setiap ada tugas kelompok Aku dan Dimas selalu dalam satu
kelompok. Hmmmp, mungkin “JODOH “… hahaha… ngarep banget Aku. Tapi gak pa-pa
lah, hehehe…. Waktu itu kelompok Aku ada kekurangan bahan-bahan untuk memasak.
Aku, Mia, dan teman-teman yang lain bingung mau gimana lagi. Lalu, Mia mencari
rencana untuk mendekatkanku sama Dimas. Akhirnya Mia menyuruh Dimas untuk
mengantar Aku pulang mengambil bahan-bahan yang kurang. “Dim, antarin Santi
pulang dong??? “, suruh Mia. “ Ngapain Mi??? “, tanyanya kepada Mia. “ Ngambil
bahan-bahan yang kurang lah, masa nya nyuruh Kamu sama Santi jalan berdua “,
jelas Mia. “ Ya udah, ok lah “, jawab Dimas. Sepertinya rencana Mia kali ini
berhasil.
Tidak
lama kemudian Mia memanggil Aku. “ San, Santi…. “
“
Iya Mi, ada apa??? “,jawabku yang tidak tahu sama sekali maksud panggilan Mia
itu. Awalnya, Aku mengira Mia meminta tolong ke Aku untuk memotong sayuran. “
Mending kamu pulang San “, suruhnya. “ Pulang, ngapain aku pulang??? Disini aja
belum selesai, memangnya kamu bisa kerjain ini sendiri??? “, Aku berpikir sejenak
tentang perkataan Mia yang menyuruhku pulang. “ Hmmmp, maksud Aku pulang bukan
untuk selamanya Santi sayang. Tapi ngambil bahan-bahan yang gak ada atau yang
kurang disini. Lagian masih banyak teman lain yang bisa bantu Aku disini “,
jelasnya. “ Oh, tapi mana bisa Aku bawa barang-barang sebanyak itu??? “,tanyaku
kembali kepada Mia. “ Tenang aja, ada yang bakalan ngantar Kamu kok San “,
jawab Mia. “ Siapa???? “, Tanyaku yang semakin penasaran dan semakin curiga
kepada Mia. “ Dimas “, jawab Mia dengan santai. “ What??? Dimas, kenapa harus Dia sich Mi???
“, jawabku dengan terkejut dan perasaan dag…..dig…..dug…..jantungku berdegup
kencang. Ternyata Dimas, cowok yang selama ini Kusuka. Pikirku, kayaknya Mia
memang sengaja menyuruh Dimas yang mengantar Aku. Padahal kan masih banyak
cowok lain diisini. BĂȘte dech….uch…. Aku sedikit berbisik kepada Mia. “ Mi,
semua ini memang udah kamu rencanain kan??? “…… “ Gak kok San, kebetulan aja
tadi Aku lihat Kamu dan Dimas yang gak begitu sibuk “,jelasnya. “ Tapi???? “,
kataku.
“
Sudah gak ada tapi-tapian, pergi ajalah. Demi kelompok kita “,jawab Mia yang
sambil merayu-rayu Aku. “ Ok, Ok….. Awas aja Kamu ntar Mi habis “, jawabku
dengan nada malas dan mengancam Mia. Akhirnya mau tidak mau Aku pergi bersama Dimas,
sedangkan temanku yang lain hanya melihat kepergianku dengan Dimas. Sewaktu Aku
dan Joko berada diparkiran, Aku bertanya kepada Dimas. “ Aku yang bawa motor
atau Kamu yang bawa motor??? “, tanyaku pada Dimas dengan nada jutek. “ Kamu
ajalah, ehhh….. Aku ajalah “,jawab Dimas dengan jawaban yang plin plan itu. “
Yang mana yang benar sich, Aku atau Kamu??? “, jawabku jutek dengan nada rada
kesal. “ Aku aja, mana kuncinya??? “, katanya sambil menjulurkan tangan
kanannya meminta kunci kepadaku. Kami pun pergi, dan jauh………. semakin jauh Aku
dan Dimas meninggalkan gedung sekolah itu. Diperjalanan Aku merasa sangat
gugup, jantungku serasa akan lepas dari tempatnya. Hahaha….. lebay banget
dech…. Tapi memang bener kok semua itu asli. Lima belas menit kemudian, kami
berdua sampai. Hmmmp, kebetulan saat itu dirumahku rame banget, semua kumpul.
Jadi malu, hahaha…. Aku buru-buru masuk kedalam untuk mengambil bahan-bahannya agar
tidak ditanya-tanya dan Aku kembali keluar. Sebelum Aku dan Dimas pergi kembali
kesekolah, ada yang bertanya kepadaku “ Pacarnya ya??? ”. Aku tak menjawab dan
segera pergi membawa bahan-bahan yang Kuambil dari dalam rumah.
Aku
dan Dimas pun tiba lagi disekolah, Aku berjalan cepat meninggalkan Dimas
sendirian yang sedang memarkir motor. Setibanya dikelas, salah seorang temanku
berkata “ cieee…..cieee…..yang abis jalan. Emmmp kemana aja tadi??? Hahahaha……
“. Aku menghiraukan perkataannya itu, dan menganggap omongan itu sebagai angin
yang menganggu-gangguku disaat Aku bersama Dimas tadi. Waktu berjalan semakin
cepat, hidangan satu per satu pun masak,
segera Aku memisahkan untuk penjurian dan untuk teman-temanku. Waktu
menunjukkan pukul 11.30 wib siang. Segera Aku menyuruh teman-teman untuk
menyusun tempat untuk menghidangkan makanan itu. Dan tidak sengaja Aku menyuruh
Dimas untuk membersihkan tempat hidangan. Untuk pertama kalinya Aku menyuruh
Dia dengan rasa tergesa-gesa karena mengejar waktu yang hanya tinggal beberapa
menit lagi. “ Dim, itu diberesin buruan “,kataku.
Tepat
pukul 12.00 wib siang, penilaian dilakukan. Sempurna semua makanan yang kami
hidangkan habis tak tersisa. Kami senang semua menyukai masakan kelompok kami.
Dengan berjalannya waktu yang panjang, hingga tiba didetik-detik Aku hendak
melaksanakan Ujian Nasional. Waktu itu Aku mendapat tugas pertanian menanam
jagung. Bibit-bibit yang kutanam tumbuh subur dan tiba waktu panen, ada yang
memberitahuku bahwa hasil pertanianku mungkin tidak dapat dipanen. Ternyata
benar tanaman yang selama berbulan-bulan kurawat benar-benar habis tak tersisa
sama sekali. Rusak….benar, benar rusak. Hanya batang dan daunnya yang tersisa.
Itu pun sudah tidak utuh lagi, hancur seperti memang ada yang sengaja
menghancurkannya.
Aku
menyelidiki siapa yang merusak tanaman jagungku itu, ternyata tak kusangka Dimas
lah yang merusaknya. Marah, kesal, kecewa kurasakan saat itu. Rasa kecewa
benar-benar ada dan saat bertemu Dimas, Aku cuek dan buang muka kepadanya. Dan
saat siang hari yang begitu panas, Aku sedang duduk disebuah kursi dibawah
pohon bersama Mia. Dan lewatlah Dimas tepat
didepan mataku, dan aku segera membuang muka dan pura-pura tidak tahu kalau
Dialah yang lewat dihadapan mataku. Sedangkan Mia sahabatku itu hanya
memperhatihan tingkah kami berdua.
Mia
sahabatku itu, cerita padaku setelah Dimas telah jauh berjalan dari kursi yang kami
berdua sedang duduki. “ Eh, San….!!! Kamu tahu gak sich, waktu kamu buang muka
ke Dimas tadi, Dia liatin Kamu terus loh “. “ Emmmmp……,biarin aja. Gak ngurus
banget, siapa-siapa bukan “, jawabku cetus dan langsung berlari masuk kedalam
kelas. Bosan…..bosan….semakin bosan aku melihat wajahnya itu, apalagi setiap
hari Aku harus ketemu Dia terus dalam waktu, dan tempat yang sama. Hmmmp… dalam
hatiku terus ngomel-ngomel gak jelas. Entah ngomel-ngomel sama Dimas atau
temanku yang lain. Apalagi waktu teman sekelasku mengejekku lagi, rasanya
geram, dan emosi itu timbul. Bener-bener kesal dibuatnya, satu kenangan yang
indah yang tak pernah terlupakan dalam pikiranku yaitu saat jalan berdua
bersamanya. Untuk pertama kalinya jalan sama Dia. Indah, indah banget…. Andai
waktu itu dapat berputar satu kali lagi, mungkin Aku gak bakalan dech kayak
gitu lagi ke-Dia. Tapi semua sudah terlanjur terjadi, dan gak akan bisa kembali
seperti semula lagi. Yang hanya bisa Kuingat sebuah hanya kenangan, kenangan
dan kenangan. Dan terakhir Dia hanya memberikan sebuah senyuman yang sangat
manis kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar